Pulau Kalimantan atau Borneo

 Pulau Kalimantan atau Borneo


Kalimantan (toponim: Kalamantan, Calémantan, Kalémantan, Kelamantan, Kilamantan, Klamantan, Klémantan, K'lemantan, Quallamontan) atau juga disebut Borneo, adalah pulau terbesar ketiga di dunia yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa, sebelah timur pulau Sumatera dan di sebelah barat Pulau Sulawesi. Pulau Kalimantan dibagi menjadi wilayah Indonesia (73%), Malaysia (26%), dan Brunei (1%). Pulau Kalimantan terkenal dengan julukan "Pulau Seribu Sungai" karena banyaknya sungai yang mengalir di pulau Kalimantan.


Pulau Kalimantan atau borneo Indonesia wisataarea.com
Pulau Kalimantan

Kalimantan (toponim: Kalamantan, Calémantan, Kalémantan, Kelamantan, Kilamantan, Klamantan, Klémantan, K'lemantan, Quallamontan) atau juga disebut Borneo, adalah pulau terbesar ketiga di dunia yang terletak di sebelah utara Pulau Jawa, sebelah timur pulau Sumatera dan di sebelah barat Pulau Sulawesi. Pulau Kalimantan dibagi menjadi wilayah Indonesia (73%), Malaysia (26%), dan Brunei (1%). Pulau Kalimantan terkenal dengan julukan "Pulau Seribu Sungai" karena banyaknya sungai yang mengalir di pulau Kalimantan.
tentang Kalimantan

Asal Usul Nama Kalimantan atau Borneo

Pada zaman dahulu, Borneo -- yang berasal dari nama kesultanan Brunei—adalah nama yang dipakai oleh kolonial Inggris dan Belanda untuk menyebut pulau ini secara keseluruhan, sedangkan Kalimantan adalah nama yang digunakan oleh penduduk kawasan timur pulau ini yang sekarang termasuk wilayah Indonesia. Wilayah utara pulau ini (Sabah, Brunei, Sarawak) untuk Malaysia dan Brunei Darussalam. Sementara untuk Indonesia wilayah Kalimantan Utara, adalah provinsi Kalimantan Utara.

Pulau Kalimantan atau borneo Indonesia wisataarea.com
gambar Wikipedia


Dalam arti luas "Kalimantan" meliputi seluruh pulau yang juga disebut dengan Borneo, sedangkan dalam arti sempit Kalimantan hanya mengacu pada wilayah Indonesia.

Etimologi
Borneo/Borneum adalah nama alternatif untuk Kalimantan dan muncul akibat salah lafal pedagang Portugal, yang diikuti oleh orang Eropa lainnya pada abad ke-17 terhadap nama Brunei ("Barune", menurut Negarakertagama atau "Dahak-Waruni"). Pada masa itu, Brunei merupakan salah satu pelabuhan dagang penting untuk produk kehutanan. Lorenzo de Gomez yang pertama mengunjungi pulau ini tahun 1518.

Dalam penggunaan internasional, nama "Borneo" yang lebih banyak digunakan. Dalam konteks Indonesia, istilah ini seringkali dipakai untuk merujuk Pulau Kalimantan secara keseluruhan, termasuk Sabah, Sarawak, dan Brunei. Sebagai perbandingan, kata "Kalimantan" (yang sebagian besarnya merupakan bekas wilayah Kerajaan Banjar) dipakai untuk merujuk ke bagian pulau yang diadministrasi oleh Indonesia. Nama lain Borneo adalah Bona Fortuna.

Asal-usul nama Kalimantan tidak begitu jelas. Sebutan kelamantan digunakan di Sarawak untuk menyebut kelompok penduduk yang mengonsumsi sagu di wilayah utara pulau ini. Menurut Crowfurd, kata Kalimantan adalah nama sejenis mangga (Mangifera) sehingga pulau Kalimantan adalah pulau mangga, namun dia menambahkan bahwa kata itu berbau dongeng dan tidak populer. Mangga lokal yang disebut klemantan ini sampai sekarang banyak terdapat di perdesaan di daerah Ketapang dan sekitarnya, Kalimantan Barat.

Menurut C. Hose dan Mac Dougall, "Kalimantan" berasal dari nama-nama enam golongan suku-suku setempat yakni Iban (Dayak Laut), Kayan, Kenyah, Klemantan (Dayak Darat), Murut, dan Punan. Dalam karangannya, Natural Man, a Record from Borneo (1926), Hose menjelaskan bahwa Klemantan adalah nama baru yang digunakan oleh bangsa Melayu. Namun menurut Slamet Muljana, kata Kalimantan bukan kata Melayu asli tapi kata pinjaman sebagai halnya kata Malaya, melayu yang berasal dari India (malaya yang berarti gunung).

Pendapat yang lain menyebutkan bahwa Kalimantan atau Klemantan berasal dari bahasa Sanskerta, Kalamanthana yaitu pulau yang udaranya sangat panas atau membakar (kal[a]: musim, waktu dan manthan[a]: membakar). Karena vokal a pada kala dan manthana menurut kebiasaan tidak diucapkan, maka Kalamanthana diucap Kalmantan yang kemudian disebut penduduk asli Klemantan atau Quallamontan yang akhirnya diturunkan menjadi Kalimantan. Terdapat tiga kerajaan besar (induk) di pulau ini yaitu Borneo (Brunei/Barune), Succadana (Tanjungpura/Bakulapura), dan Banjarmasinn (Nusa Kencana). Penduduk kawasan timur pulau ini menyebutnya Pulu K'lemantan, orang Italia mengenalnya Calemantan dan orang Ukraina : Калімантан.

Jika ditilik dari bahasa Jawa, nama Kalimantan dapat berarti "Sungai Intan".

Sepanjang sejarahnya, Kalimantan juga dikenal dengan nama-nama yang lain. Kerajaan Singasari, misalnya, menyebutnya "Bakulapura" yaitu jajahannya yang berada di barat daya Kalimantan. Bakula dalam bahasa Sanskerta artinya pohon tanjung (Mimusops elengi) sehingga Bakulapura mendapat nama Melayu menjadi "Tanjungpura" artinya negeri/pulau pohon tanjung yaitu nama kerajaan Tanjungpura yang sering dipakai sebagai nama pulaunya. Sementara Kerajaan Majapahit di dalam Kakawin Nagarakretagama yang ditulis tahun 1365 menyebutnya "Tanjungnagara" yang juga mencakup pula Filipina seperti Saludung (Manila) dan Kepulauan Sulu.

Hikayat Banjar, sebuah kronik kuno dari Kalimantan Selatan yang bab terakhirnya ditulis pada tahun 1663, tetapi naskah Hikayat Banjar ini sendiri berasal dari naskah dengan teks bahasa Melayu yang lebih kuno pada masa kerajaan Hindu, di dalamnya menyebut Pulau Kalimantan dengan nama Melayu yaitu pulau "Hujung Tanah". Sebutan Hujung Tanah ini muncul berdasarkan bentuk geomorfologi wilayah Kalimantan Selatan pada zaman dahulu kala yang berbentuk sebuah semenanjung yang terbentuk dari deretan Pegunungan Meratus dengan daratan yang berujung di Tanjung Selatan yang menjorok ke Laut Jawa. Keadaan ini identik dengan bentuk bagian ujung dari Semenanjung Malaka yaitu Negeri Johor yang sering disebut "Ujung Tanah" dalam naskah-naskah Kuno Melayu. Semenanjung Hujung Tanah inilah yang bersetentangan dengan wilayah Majapahit di Jawa Timur sehingga kemudian mendapat nama Tanjungnagara artinya pulau yang berbentuk tanjung/semenanjung.

Sebutan "Nusa Kencana" adalah sebutan pulau Kalimantan dalam naskah-naskah Jawa Kuno seperti dalam Ramalan Prabu Jayabaya dari masa kerajaan Kadiri (Panjalu), tentang akan dikuasainya Tanah Jawa oleh bangsa Jepang yang datang dari arah Nusa Kencana (Bumi Kencana). Memang terbukti sebelum menyeberang ke Jawa, tentara Jepang terlebih dahulu menguasai ibukota Kalimantan saat itu yaitu Banjarmasin. Nusa Kencana sering pula digambarkan sebagai Tanah Sabrang yaitu sebagai perwujudan Negeri Alengka yang primitif tempat tinggal para raksasa di seberang Tanah Jawa. Di Tanah Sabrang inilah terdapat Tanah Dayak yang disebutkan dalam Serat Maha Parwa.
Sebutan-sebutan yang lain antara lain: "Pulau Banjar", Raden Paku (kelak dikenal sebagai Sunan Giri) diriwayatkan pernah menyebarkan Islam ke Pulau Banjar, demikian pula sebutan oleh orang Gowa, Selaparang (Lombok), Sumbawa dan Bima karena kerajaan-kerajaan ini memiliki hubungan bilateral dengan Kesultanan Banjar; "Jawa Besar" sebutan dari Marco Polo penjelajah dari Italia atau dalam bahasa Arab; dan "Jaba Daje" artinya "Jawa di Utara (dari pulau Madura) sebutan suku Madura terhadap pulau Kalimantan baru pada abad ke-20.


Sejarah

Pulau Kalimantan berada di tengah-tengah Asia Tenggara karena itu pulau ini banyak mendapat pengaruh budaya dan politik dari pulau-pulau sekitarnya. Sekitar tahun 400 pulau Kalimantan telah memasuki zaman sejarah dengan ditemukan prasasti Yupa peninggalan Kerajaan Kutai tetapi perkembangan kemajuan peradaban relatif lebih lambat dibandingkan pulau lain karena kendala geografis dan penduduk yang sedikit.

Pada abad ke-14 Odorico da Pordenone, seorang rahib Katolik telah mengunjungi Kalimantan. Sekitar tahun 1362 Majapahit dibawah pimpinan Patih Gajah Mada melakukan perluasan kekuasaannya ke pulau Kalimantan, yaitu negeri-negeri : Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Ungga, Kota Waringin, Sambas, Lawai, Kadandangan, Landa, Samadang, Tirem, Sedu, Barune, Kalka, Saludung (Maynila), Solot, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalong, Tanjung Kutei dan Malano tetap yang terpenting di pulau Tanjungpura.

Pulau Kalimantan dahulu terbagi menjadi 3 wilayah kerajaan besar: Brunei, Sukadana/Tanjungpura dan Banjarmasin. Tanjung Dato adalah batas wilayah Brunei dengan Sukadana/Tanjungpura, sedangkan Tanjung Sambar batas wilayah Sukadana/Tanjungpura dengan wilayah Banjarmasin.

Di zaman Hindia Belanda, Kalimantan dikenal sebagai Borneo. Ini tidak berarti nama Kalimantan tidak dikenal. Dalam surat-surat Pangeran Tamjidillah dari Kerajaan Banjar pada tahun 1857 kepada pihak Residen Belanda di Banjarmasin ia menyebutkan pulau Kalimantan, tidak pulau Borneo. Ini menunjukkan bahwa di kalangan penduduk, nama Kalimantan lebih dikenal daripada nama Borneo yang dipakai dalam administrasi pemerintahan kolonial Hindia Belanda.

Sebelum tahun 1900, Kalimantan terdiri atas beberapa negara swapraja, kemudian negara Tayan dan Meliau dibentuk 1909, Pinoh tahun 1913 dan Semitau 1916. Nama Kalimantan kembali mulai populer pada sekitar tahun 1940-an. pada tahun 1936 ditetapkan Ordonantie pembentukan Gouvernementen Sumatra, Borneo en de Groote-Oost (Stbld. 1936/68). Borneo Barat menjadi daerah Karesidenan dan sebagai Gouvernementen Sumatra, Borneo en de Groote-Oost yang pusat pemerintahannya adalah Banjarmasin.

Dua tahun kemudian, Gouvernementen van Borneo dibagi dua. Yakni Residente Zuideen en Oosterafdeling van Borneo dengan ibukota Banjarmasin dan Residente Westerafdeling dengan ibukotanya Pontianak. Pada tahun 1938, Hindia Belanda mendirikan tiga provinsi atas eilandgewest yaitu Sumatera beribukota di Medan, Borneo beribukota di Banjarmasin, dan Timur Besar beribukota di Makassar. Tiap-tiap Residente dikepalai seorang Resident dengan Besluit Gouverneur van Borneo tertanggal 10 Mei 1939 No.BB/A-I/3/Bijblad No. 14239 dan No.14239 a) Residensi Kalimantan Barat dibagi menjadi empat afdeling dan 13 onder afdeling.

Pada tanggal 13 Februari 1942 Sakaguchi Detachment menduduki kota Banjarmasin. Tanggal 17 Agustus 1945 kemerdekaan Indonesia diproklamasikan, dimana Borneo-Belanda termasuk salah satu provinsi dari Republik Indonesia. Tanggal 9 Nopember 1945 Rakyat Kalimantan (Banjarmasin) mengadakan pemberontakan terhadap pemerintahan yang legal dengan bergerilya di pedalaman dan berhasil menggagalkan rencana Belanda untuk mendirikan Negara Borneo. Setelah mengambil alih Kalimantan dari tangan Jepang, NICA mendesak kaum Federal Kalimantan untuk segera mendirikan Negara Kalimantan menyusul Negara Indonesia Timur yang telah berdiri. Maka dibentuklah Dewan Kalimantan Barat tanggal 28 Oktober 1946, yang menjadi Daerah Istimewa Kalimantan Barat pada tanggal 27 Mei 1947; dengan Kepala Daerah, Sultan Hamid II dari Kesultanan Pontianak dengan pangkat Mayor Jenderal. Wilayahnya terdiri atas 13 kerajaan sebagai swapraja seperti pada zaman Hindia Belanda yaitu Sambas, Pontianak, Mempawah, Landak, Kubu, Tayan, Meliau, Sekadau, Sintang, Selimbau, Simpang, Sukadana dan Matan.

Dewan Dayak Besar dibentuk tanggal 7 Desember 1946, dan selanjutnya tanggal 8 Januari 1947 dibentuk Dewan Pagatan, Dewan Pulau Laut dan Dewan Cantung Sampanahan yang bergabung menjadi Federasi Kalimantan Tenggara. Kemudian tanggal 18 Februari 1947 dibentuk Dewan Pasir dan Federasi Kalimantan Timur, yang akhirnya pada tanggal 26 Agustus 1947 bergabung menjadi Dewan Kalimantan Timur. Selanjutnya Daerah Kalimantan Timur menjadi Daerah Istimewa Kalimantan Timur dengan Kepala Daerah, Sultan Aji Muhammad Parikesit dari Kesultanan Kutai dengan pangkat Kolonel. Daerah Banjar yang sudah terjepit daerah federal akhirnya dibentuk Dewan Banjar tanggal 14 Januari 1948.

Gubernur Kalimantan dalam pemerintahan Pemerintah RI di Yogyakarta, yaitu Pangeran Muhammad Noor, mengirim Cilik Riwut dan Hasan Basry dalam misi perjuangan mempertahankan kemerdekaan untuk menghadapi kekuatan NICA. Pada tanggal 17 Mei 1949, Letkol Hasan Basry selaku Gubernur Tentara ALRI Wilayah IV Pertahanan Kalimantan memproklamirkan sebuah Proklamasi Kalimantan yang isinya bahwa "Kalimantan" tetap sebagai bagian tak terpisahkan dari Negara Republik Indonesia yang telah diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Pemerintah Gubernur Militer ini merupakan upaya tandingan terhadap terbentuknya Dewan Banjar yang didirikan Belanda.

Pada masa Republik Indonesia Serikat, Kalimantan menjadi beberapa satuan-kenegaraan yaitu: Daerah Istimewa Kalimantan Barat dengan ibukota Pontianak, Federasi Kalimantan Timur dengan ibukota Samarinda, Dayak Besar dengan ibukota sementara Banjarmasin, Daerah Banjar dengan ibukota Banjarmasin, Federasi Kalimantan Tenggara dengan ibukota Kotabaru.
Sejak tahun 1938, Borneo-Hindia Belanda (Kalimantan) merupakan satu kesatuan daerah administratif di bawah seorang gubernur, yang berkedudukan di Banjarmasin, dan memiliki wakil di Volksrad.

Pembentukan kembali provinsi Kalimantan tanggal 14 Agustus 1950 sesudah bubarnya RIS, diperingati sebagai Hari Jadi Provinsi Kalimantan Selatan (dahulu bernama provinsi Kalimantan, salah satu provinsi pertama). Hingga tahun 1956 Kalimantan dibagi menjadi 3 provinsi, yaitu Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat. Selanjutnya pada tanggal 23 Mei 1957, secara resmi terbentuklah provinsi Kalimantan Tengah yang sebelumnya bernama Daerah Dayak Besar sebagai bentuk pemisahan diri dari Kalimantan Selatan, berdiri menjadi provinsi ke-17 yang independen.

Kemudian dalam Konfrontasi Indonesia-Malaysia, Kalimantan merupakan lokasi utama dalam peristiwa konfrontasi antara Indonesia dan Malaysia pada tahun 1962 dan 1966.


Geografi

Gunung Kinabalu adalah gunung tertinggi di Kalimantan
Pulau Kalimantan terletak di sebelah utara pulau Jawa, sebelah timur Selat Melaka, sebelah barat pulau Sulawesi dan sebelah selatan Filipina. Luas pulau Kalimantan adalah 743.330 km².
Pulau Kalimantan dikelilingi oleh Laut Cina Selatan di bagian barat dan utara-barat, Laut Sulu di utara-timur, Laut Sulawesi dan Selat Makassar di timur serta Laut Jawa dan Selat Karimata di bagian selatan.

Pulau Kalimantan atau borneo Indonesia wisataarea.com puncak tertinggi kalimantan gunung kinabalu
gambar wikipedia


Gunung Kinabalu (4095 m) yang terletak di Sabah, Malaysia ialah lokasi tertinggi di Kalimantan. Selain itu terdapat pula Gunung Palung, Gunung Lumut, dan Gunung Liangpran.
Sungai-sungai terpanjang di Kalimantan adalah Sungai Kapuas (1143 km) di Kalimantan Barat, Indonesia, Sungai Barito (880 km) di Kalimantan Tengah, Indonesia, Sungai Mahakam (980 km) di Kalimantan Timur, Indonesia, Sungai Rajang (562,5 km) di Serawak, Malaysia.
Jalan Nasional RI di Kalimantan sepanjang 6.075,97 km yang secara umum dengan kondisi mantap baru mencapai 77%.

gambar google

Sumber daya alam

Kalimantan memiliki hutan yang lebat. Namun, wilayah hutan itu semakin berkurang akibat maraknya aksi penebangan pohon.
Hutan Kalimantan ialah habitat alami bagi hewan orang utan, gajah borneo, badak borneo, landak, rusa, tapir dan beberapa spesies yang terancam punah. Karena kekayaan alamnya, wilayah Kalimantan Indonesia merupakan salah satu dari enam koridor ekonomi yang dicanangkan pemerintah Republik Indonesia dimana Kalimantan ditetapkan sebagai pusat produksi dan pengolahan hasil tambang dan lumbung energi nasional di Indonesia.
Dengan jumlah penduduk yang hanya 5,6% persen dari total penduduk nasional RI, Kalimantan-Indonesia memberi kontribusi sebesar 9,3% terhadap PDB nasional RI yang dihasilkan dari kekayaan alamnya. Sementara daerah lain, porsi sumbangannya terhadap PDB nasional hampir sama atau kurang dari porsi prosentase jumlah penduduknya terhadap nasional.
Porsi investasi di Kalimantan terhadap total investasi nasional RI yang hanya 0,6%. Hal ini amat kontras dengan porsi investasi yang tertanam di Jawa yang besarnya mencapai 72,3% dari total investasi secara nasional. Ini jelas mengisyaratkan bahwa Kalimantan adalah daerah yang terancam tidak berkembang secara ekonomi karena sebagian besar pendapatan yang dihasilkan di daerah ini dibawa ke pulau Jawa. Kalimantan kaya dengan barang tambang diantaranya intan.

Administrasi

Berikut 16 kota besar di Kalimantan berdasarkan jumlah populasi tahun 2010 dan perbandingan dengan tahun 2000. Gambar

Pulau Kalimantan atau borneo Indonesia wisataarea.com pembagian wilayah politik
sumber wikipedia

Di Pulau Kalimantan terdapat sebagian wilayah Indonesia dan Malaysia. Wilayah Brunei seluruhnya berada di pulau ini.


Indonesia

Kalimantan letaknya di tengah-tengah Indonesia sehingga layak dicalonkan sebagai lokasi ibukota Indonesia masa depan.
Kalimantan wilayah Indonesia dibagi menjadi lima provinsi berdasarkan urutan pembentukannya:
    Kalimantan Selatan dengan ibu kota Banjarmasin
    Kalimantan Barat dengan ibu kota Pontianak
    Kalimantan Timur dengan ibu kota Samarinda
    Kalimantan Tengah dengan ibu kota Palangkaraya
    Kalimantan Utara dengan ibu kota Tanjung Selor

Malaysia

Dua Negara bagian dan wilayah Persekutuan Malaysia yang berada di Kalimantan:
    Sabah dengan ibu negeri Kota Kinabalu
    Sarawak dengan ibu negeri Kuching
    Wilayah Persekutuan Labuan (di lepas pantai Sabah)

Brunei Darussalam

Seluruh wilayah negara Brunei Darussalam terdapat di Pulau Kalimantan.


Bahasa

Bahasa-bahasa asli di Kalimantan merupakan bahasa Austronesia dari rumpun Malayo-Polynesia. ya meskipun ada banyak sekali bahasabahasa daerah yang tersebar ke seluruh wilayah Pulau Kalimantan atau Borneo.


Budaya

Mengulur naga dalam pesta adat Erau, upacara adat suku Kutai. Karakter naga dalam budaya Banjar. gambar

naga suku banjar kalimantan wisataarea.com
gambar wikipedia
Burung Enggang gading dalam Lambang negara bagian Sarawak. gambar
Burung Enggang gading dalam Lambang negara bagian Sarawak. gambar wisataarea.com
gambar wikipedia


Ada 5 budaya dasar masyarakat asli rumpun Austronesia di Kalimantan atau Etnis Orang Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai dan Paser. Sedangkan sensus BPS tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokan menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia (268 suku bangsa) dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar). Suku Melayu menempati wilayah pulau Karimata dan pesisir Kalimantan Barat, Sarawak, Brunei hingga pesisir Sabah. Suku Banjar menempati wilayah Kalsel serta sebagian Kalteng dan Kaltim. Suku Kutai dan Paser menempati wilayah Kaltim. Sedangkan suku Dayak menempati daerah pedalaman Kalimantan. Keberadaan orang Tionghoa yang banyak di kota Singkawang dan Pontianak dapat disamakan komunitas Cina Benteng yang bermukim di Kota Tangerang dekat Jakarta. Memang beberapa kota di pulau Kalimantan diduduki secara politis oleh mayoritas suku-suku imigran seperti suku Hakka (Singkawang), suku Jawa (Balikpapan, Samarinda), Bugis (Balikpapan, Samarinda, Pagatan, Nunukan, Tarakan, Tawau) dan sebagainya.

Suku Bugis merupakan suku transmigran pertama yang menetap, berbaur dan memiliki hubungan historis dengan kerajaan-kerajaan Melayu (baca: kerajaan Islam) di Kalimantan. Tari Rindang Kemantis adalah gabungan tarian yang mengambil unsur seni beberapa etnis di Balikpapan seperti Banjar, Dayak, Bugis, Jawa, Padang dan Sunda dianggap kurang mencerminkan budaya lokal sehingga menimbulkan protes lembaga adat suku-suku lokal. Di Balikpapan pembentukan Brigade Lagaligo sebuah organisasi kemasyarakatan warga perantuan asal Sulawesi Selatan dianggap provokasi dan ditentang ormas suku lokal. Kota Sampit pernah dianggap sebagai Sampang ke-2. Walikota Singkawang yang berasal dari suku Tionghoa membangun di pusat kota Singkawang sebuah patung liong yaitu naga khas budaya Tionghoa yang lazim ditaruh atau disembahyangi di kelenteng.[butuh rujukan] Pembangunan patung naga ini dianggap sebagai simbolisasi hegemoni politik ECI Etnis Cina Indonesia dengan mengabaikan keberadaan etnis pribumi di Singkawang sehingga menimbulkan protes oleh beberapa kelompok. Penguatan dominasi politik ECI diklaim sebagai upaya revitalisasi negara Lan Fang yang mengalami penolakan oleh FPI, namun di lain pihak, suku Dayak mendukung keberadaan patung naga tersebut. Dalam budaya Kalimantan, karakter naga biasanya disandingkan dengan karakter enggang gading, yang melambangkan keharmonisan dwitunggal semesta yaitu dunia atas dan dunia bawah. Seorang tokoh suku imigran telah membuat tulisan yang menyinggung etnis Melayu. Walaupun demikian sebagian budaya suku-suku Kalimantan merupakan hasil adaptasi, akulturasi, asimilasi, amalgamasi, dan inkorporasi unsur-unsur budaya dari luar misalnya sarung Samarinda, sarung Pagatan, wayang kulit Banjar, benang bintik (batik Dayak Ngaju), ampik (batik Dayak Kenyah), tari zafin dan sebagainya.


jarak kota-kota di kalimantan wisataarea.com
jarak kotakota di Kalimantan


Pada dasarnya budaya Kalimantan terbagi menjadi budaya pedalaman dan budaya pesisir. Atraksi kedua budaya ini setiap tahun ditampilkan dalam Festival Borneo yang ikuti oleh keempat provinsi di Kalimantan diadakan bergiliran masing-masing provinsi. Kalimantan kaya dengan budaya kuliner, diantaranya masakan sari laut.
 Sumber : wikipedia Bahasa Indonesia

Silahkan Kunjungi Tempat-Tempat  Wisata di Kalimantan

Terimakasih atas kunjungannya dan semoga bermanfaat. wisataarea.com (:

Related Posts:

Pulau Jawa

PULAU JAWA


Pulau Jawa adalah sebuah pulau di Indonesia dan merupakan salah satu pulau terluas ke-13 di dunia. Dengan jumlah penduduk sekitar hampir 160 juta, pulau ini berpenduduk terbanyak di dunia dan merupakan salah satu tempat terpadat di dunia. Meskipun hanya menempati urutan terluas ke-5, Pulau Jawa dihuni oleh 60% penduduk Indonesia, Angka ini turun jika di bandingkan sensus penduduk tahun 1905 yang mencapai 80,6% dari seluruh penduduk indonesia penurunan penduduk di pulau jawa secara persentase di akibatkan perpindahan penduduk(Transmigrasi) dari pulau jawa ke seluruh indonesia. Ibu kota Indonesia, Jakarta, terletak di Jawa bagian barat laut (tepatnya di ujung paling barat Jalur Pantura).

gambar pulau jawa wisataarea.com
Pulau Jawa


Jawa adalah pulau yang relatif muda dan sebagian besar terbentuk dari aktivitas vulkanik. Deretan gunung-gunung berapi membentuk jajaran yang terbentang dari timur hingga barat pulau ini, dengan dataran endapan aluvial sungai di bagian utara.
Banyak sejarah Indonesia berlangsung di pulau ini. Dahulu, Jawa adalah pusat beberapa kerajaan Hindu-Buddha, kesultanan Islam, pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, serta pusat pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pulau ini berdampak besar terhadap kehidupan sosial, politik, dan ekonomi Indonesia.

topografi gambar pulau jawa wisataarea.com
topografi pulau Jawa


Sebagian besar penduduknya bertutur dalam tiga bahasa utama. Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu dari 100 juta penduduk Indonesia, dan sebagian besar penuturnya berdiam di pulau Jawa. Sebagian besar penduduk adalah bilingual, yang berbahasa Indonesia baik sebagai bahasa pertama maupun kedua. Dua bahasa penting lainnya adalah bahasa Sunda dan bahasa Betawi. Sebagian besar penduduk Pulau Jawa adalah Muslim dan Kristen, namun terdapat beragam aliran kepercayaan, agama, kelompok etnis, serta budaya di pulau ini.
Pulau ini secara administratif terbagi menjadi enam provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten; serta dua wilayah khusus, yaitu DKI Jakarta dan DI Yogyakarta.


Asal Mula Nama Jawa

Asal mula nama "Jawa" dapat dilacak dari kronik berbahasa Sanskerta yang menyebut adanya pulau bernama yavadvip(a) (dvipa berarti "pulau", dan yava berarti "jelai" atau juga "biji-bijian"). Apakah biji-bijian ini merupakan jewawut (Setaria italica) atau padi)], keduanya telah banyak ditemukan di pulau ini pada masa sebelum masuknya pengaruh India. Boleh jadi, pulau ini memiliki banyak nama sebelumnya, termasuk kemungkinan berasal dari kata jaú yang berarti "jauh". Yavadvipa disebut dalam epik asal India, Ramayana. Sugriwa, panglima wanara (manusia kera) dari pasukan Sri Rama, mengirimkan utusannya ke Yavadvip ("Pulau Jawa") untuk mencari Dewi Shinta. Kemudian berdasarkan kesusastraan India terutama pustaka Tamil, disebut nama Sanskerta yāvaka dvīpa (dvīpa = pulau).
Dugaan lain ialah bahwa kata "Jawa" berasal dari akar kata dalam bahasa Proto-Austronesia, Awa atau Yawa(Mirip dengan kata Awa'i (Awaiki) atau Hawa'i (Hawaiki) yang digunakan di Polynesia, terutama Hawaii) yang berarti "rumah".


Aksara

Aksara Jawa, dikenal juga sebagai Hanacaraka (ꦲꦤꦕꦫꦏ      ) dan Carakan (ꦕꦫꦏꦤ꧀    ), adalah salah satu aksara tradisional Nusantara yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa dan sejumlah bahasa daerah Indonesia lainnya seperti bahasa Sunda dan bahasa Sasak. Tulisan ini berkerabat dekat dengan aksara Bali.
Berdasar tradisi lisan, aksara jawa diciptakan oleh Aji Saka, tokoh pendatang dari India, dari suku Shaka (Scythia). Legenda melambangkan kedatangan Dharma (ajaran dan peradaban Hindu-Buddha) ke pulau Jawa. Kini kata Saka masih digunakan dalam istilah dalam Bahasa Jawa, saka atau soko, yang berarti penting, pangkal, atau asal-mula. Aji Saka bermakna "raja asal-mula" atau "raja pertama".


Sejarah

Sejarah Pulau Jawa. Pulau ini merupakan bagian dari gugusan kepulauan Sunda Besar dan paparan Sunda, yang pada masa sebelum es mencair merupakan ujung tenggara benua Asia. Sisa-sisa fosil Homo erectus, yang populer dijuluki "Si Manusia Jawa", ditemukan di sepanjang daerah tepian Sungai Bengawan Solo, dan peninggalan tersebut berasal dari masa 1,7 juta tahun yang lampau. Situs Sangiran adalah situs prasejarah yang penting di Jawa. Beberapa struktur megalitik telah ditemukan di pulau Jawa, misalnya menhir, dolmen, meja batu, dan piramida berundak yang lazim disebut Punden Berundak. Punden berundak dan menhir ditemukan di situs megalitik di Paguyangan, Cisolok, dan Gunung Padang, Jawa Barat. Situs megalitik Cipari yang juga ditemukan di Jawa Barat menunjukkan struktur monolit, teras batu, dan sarkofagus. Punden berundak ini dianggap sebagai strukstur asli Nusantara dan merupakan rancangan dasar bangunan candi pada zaman kerajaan Hindu-Buddha Nusantara setelah penduduk lokal menerima pengaruh peradaban Hindu-Buddha dari India. Pada abad ke-4 SM hingga abad ke-1 atau ke-5 M Kebudayaan Buni yaitu kebudayaan tembikar tanah liat berkembang di pesisir utara Jawa Barat. Kebudayaan protosejarah ini merupakan pendahulu kerajaan Tarumanagara.

Pulau Jawa yang sangat subur dan bercurah hujan tinggi memungkinkan berkembangnya budidaya padi di lahan basah, sehingga mendorong terbentuknya tingkat kerjasama antar desa yang semakin kompleks. Dari aliansi-aliansi desa tersebut, berkembanglah kerajaan-kerajaan kecil. Jajaran pegunungan vulkanik dan dataran-dataran tinggi di sekitarnya yang membentang di sepanjang pulau Jawa menyebabkan daerah-daerah interior pulau ini beserta masyarakatnya secara relatif terpisahkan dari pengaruh luar. Pada masa sebelum berkembangnya negara-negara Islam serta kedatangan kolonialisme Eropa, sungai-sungai yang ada merupakan sarana perhubungan utama masyarakat, meskipun kebanyakan sungai di Jawa beraliran pendek. Hanya Sungai Brantas dan Bengawan Solo yang dapat menjadi sarana penghubung jarak jauh, sehingga pada lembah-lembah sungai tersebut terbentuklah pusat dari kerajaan-kerajaan yang besar.
Diperkirakan suatu sistem perhubungan yang terdiri dari jaringan jalan, jembatan permanen, serta pos pungutan cukai telah terbentuk di pulau Jawa setidaknya pada pertengahan abad ke-17. Para penguasa lokal memiliki kekuasaan atas rute-rute tersebut, musim hujan yang lebat dapat pula mengganggu perjalanan, dan demikian pula penggunakan jalan-jalan sangat tergantung pada pemeliharaan yang terus-menerus. Dapatlah dikatakan bahwa perhubungan antarpenduduk pulau Jawa pada masa itu adalah sulit.


Masa Kerajaan Hindu - Budha

Kerajaan Taruma dan Kerajaan Sunda muncul di Jawa Barat, masing-masing pada abad ke-4 dan ke-7, sedangkan Kerajaan Medang adalah kerajaan besar pertama yang berdiri di Jawa Tengah pada awal abad ke-8. Kerajaan Medang menganut agama Hindu dan memuja Dewa Siwa, dan kerajaan ini membangun beberapa candi Hindu yang terawal di Jawa yang terletak di Dataran Tinggi Dieng. Di Dataran Kedu pada abad ke-8 berkembang Wangsa Sailendra, yang merupakan pelindung agama Buddha Mahayana. Kerajaan mereka membangun berbagai candi pada abad ke-9, antara lain Borobudur dan Prambanan di Jawa Tengah.

Gambar Sebuah stupa Buddha di candi Borobudur, dari abad ke-9 wisataarea.com
Gambar Sebuah stupa Buddha di candi Borobudur, dari abad ke-9.

Sekitar abad ke-10, pusat kekuasaan bergeser dari tengah ke timur pulau Jawa. Di wilayah timur berdirilah kerajaan-kerajaan Kadiri, Singhasari, dan Majapahit yang terutama mengandalkan pada pertanian padi, namun juga mengembangkan perdagangan antar kepulauan Indonesia beserta Cina dan India.
Raden Wijaya mendirikan Majapahit, dan kekuasaannya mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (m. 1350-1389). Kerajaan mengklaim kedaulatan atas seluruh kepulauan Indonesia, meskipun kontrol langsung cenderung terbatas pada Jawa, Bali, dan Madura saja. Gajah Mada adalah mahapatih pada masa Hayam Wuruk, yang memimpin banyak penaklukan teritorial bagi kerajaan. Kerajaan-kerajaan di Jawa sebelumnya mendasarkan kekuasaan mereka pada pertanian, namun Majapahit berhasil menguasai pelabuhan dan jalur pelayaran sehingga menjadi kerajaan komersial pertama di Jawa. Majapahit mengalami kemunduran seiring dengan wafatnya Hayam Wuruk dan mulai masuknya agama Islam ke Indonesia.


Masa Kerajaan Islam

Pada akhir abad ke-16, Islam telah melampaui Hindu dan Buddha sebagai agama dominan di Jawa, melalui dakwah yang terlebih dahulu dijalankan kepada kaum penguasa pulau ini. Dalam masa ini, kerajaan-kerajaan Islam Demak, Cirebon, dan Banten membangun kekuasaannya. Kesultanan Mataram pada akhir abad ke-16 tumbuh menjadi kekuatan yang dominan dari bagian tengah dan timur Jawa. Para penguasa Surabaya dan Cirebon berhasil ditundukkan di bawah kekuasaan Mataram, sehingga hanya Mataram dan Banten lah yang kemudian tersisa ketika datangnya bangsa Belanda pada abad ke-17.


Masa Kolonial

Hubungan Jawa dengan kekuatan-kekuatan kolonial Eropa dimulai pada tahun 1522, dengan diadakannya perjanjian antara Kerajaan Sunda dan Portugis di Malaka. Setelah kegagalan perjanjian tersebut, kehadiran Portugis selanjutnya hanya terbatas di Malaka dan di pulau-pulau sebelah timur nusantara saja. Sebuah ekspedisi di bawah pimpinan Cornelis de Houtman yang terdiri dari empat buah kapal pada tahun 1596, menjadi awal dari hubungan antara Belanda dan Indonesia. Pada akhir abad ke-18, Belanda telah berhasil memperluas pengaruh mereka terhadap kesultanan-kesultanan di pedalaman pulau Jawa (lihat Perusahaan Hindia Timur Belanda di Indonesia). Meskipun orang-orang Jawa adalah pejuang yang pemberani, konflik internal telah menghalangi mereka membentuk aliansi yang efektif dalam melawan Belanda. Sisa-sisa Mataram bertahan sebagai Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Para raja Jawa mengklaim berkuasa atas kehendak Tuhan, dan Belanda mendukung sisa-sisa aristokrasi Jawa tersebut dengan cara mengukuhkan kedudukan mereka sebagai penguasa wilayah atau bupati dalam lingkup administrasi kolonial.

Di awal masa kolonial, Jawa memegang peranan utama sebagai daerah penghasil beras. Pulau-pulau penghasil rempah-rempah, misalnya kepulauan Banda, secara teratur mendatangkan beras dari Jawa untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Inggris sempat menaklukkan Jawa pada tahun 1811. Jawa kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Britania Raya, dengan Sir Stamford Raffles sebagai Gubernur Jenderalnya. Pada tahun 1814, Inggris mengembalikan Jawa kepada Belanda sebagaimana ketentuan pada Traktat Paris.
Penduduk pulau Jawa kemungkinan sudah mencapai 10 juta orang pada tahun 1815. Pada paruh kedua abad ke-18, mulai terjadi lonjakan jumlah penduduk di kadipaten-kadipaten sepanjang pantai utara Jawa bagian tengah, dan dalam abad ke-19 seluruh pulau mengalami pertumbuhan populasi yang cepat. Berbagai faktor penyebab pertumbuhan penduduk yang besar antara lain termasuk peranan pemerintahan kolonial Belanda, yaitu dalam menetapkan berakhirnya perang saudara di Jawa, meningkatkan luas area persawahan, serta mengenalkan tanaman pangan lainnya seperti singkong dan jagung yang dapat mendukung ketahanan pangan bagi populasi yang tidak mampu membeli beras. Pendapat lainnya menyatakan bahwa meningkatnya beban pajak dan semakin meluasnya perekutan kerja di bawah Sistem Tanam Paksa menyebabkan para pasangan berusaha memiliki lebih banyak anak dengan harapan dapat meningkatkan jumlah anggota keluarga yang dapat menolong membayar pajak dan mencari nafkah. Pada tahun 1820, terjadi wabah kolera di Jawa dengan korban 100.000 jiwa.

Kehadiran truk dan kereta api sebagai sarana transportasi bagi masyarakat yang sebelumnya hanya menggunakan kereta dan kerbau, penggunaan sistem telegraf, dan sistem distribusi yang lebih teratur di bawah pemerintahan kolonial; semuanya turut mendukung terhapusnya kelaparan di Jawa, yang pada gilirannya meningkatkan pertumbuhan penduduk. Tidak terjadi bencana kelaparan yang berarti di Jawa semenjak tahun 1840-an hingga masa pendudukan Jepang pada tahun 1940-an. Selain itu, menurunnya usia awal pernikahan selama abad ke-19, menyebabkan bertambahnya jumlah tahun di mana seorang perempuan dapat mengurus anak.

populasi terpadat pulau Jawa tahun 2005 wisataarea.com
populasi terpadat pulau Jawa tahun 2005


Masa Kemerdekaan

Nasionalisme Indonesia mulai tumbuh di Jawa pada awal abad ke-20 (lihat Kebangkitan Nasional Indonesia), dan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan setelah Perang Dunia II juga berpusat di Jawa. Kudeta G 30 S PKI yang gagal dan kekerasan anti-komunis selanjutnya pada tahun 1965-66 sebagian besar terjadi di pulau ini. Jawa saat ini mendominasi kehidupan sosial, politik, dan ekonomi di Indonesia, yang berpotensi menjadi sumber kecemburuan sosial. Pada tahun 1998 terjadi kerusuhan besar yang menimpa etnis Tionghoa-Indonesia, yang merupakan salah satu dari berbagai kerusuhan berdarah yang terjadi tidak berapa lama sebelum runtuhnya pemerintahan Presiden Soeharto yang telah berjalan selama 32 tahun.

Pada tahun 2006, Gunung Merapi meletus dan diikuti oleh gempa bumi yang melanda Yogyakarta. Jawa juga sempat terkena sedikit dampak wabah flu burung, serta merupakan lokasi bencana semburan lumpur panas Sidoarjo.


Geografi dan Geologi

Gunung Semeru dan Bromo di Jawa Timur. (gambar) wisataarea.com
Gunung Semeru dan Bromo di Jawa Timur. (gambar)


Geografi

Jawa bertetangga dengan Sumatera di sebelah barat, Bali di timur, Kalimantan di utara, dan Pulau Natal di selatan. Pulau Jawa merupakan pulau ke-13 terbesar di dunia. Perairan yang mengelilingi pulau ini ialah Laut Jawa di utara, Selat Sunda di barat, Samudera Hindia di selatan, serta Selat Bali dan Selat Madura di timur.
Jawa memiliki luas sekitar 126.700 km2. Sungai yang terpanjang ialah Bengawan Solo, yaitu sepanjang 600 km. Sungai ini bersumber di Jawa bagian tengah, tepatnya di gunung berapi Lawu. Aliran sungai kemudian mengalir ke arah utara dan timur, menuju muaranya di Laut Jawa di dekat kota Surabaya.

Hampir keseluruhan wilayah Jawa pernah memperoleh dampak dari aktivitas gunung berapi. Terdapat tiga puluh delapan gunung yang terbentang dari timur ke barat pulau ini, yang kesemuanya pada waktu tertentu pernah menjadi gunung berapi aktif. Gunung berapi tertinggi di Jawa adalah Gunung Semeru (3.676 m), sedangkan gunung berapi paling aktif di Jawa dan bahkan di Indonesia adalah Gunung Merapi (2.968 m) serta Gunung Kelud (1.731 m). Gunung-gunung dan dataran tinggi yang berjarak berjauhan membantu wilayah pedalaman terbagi menjadi beberapa daerah yang relatif terisolasi dan cocok untuk persawahan lahan basah. Lahan persawahan padi di Jawa adalah salah satu yang tersubur di dunia. Jawa adalah tempat pertama penanaman kopi di Indonesia, yaitu sejak tahun 1699. Kini, kopi arabika banyak ditanam di Dataran Tinggi Ijen baik oleh para petani kecil maupun oleh perkebunan-perkebunan besar.

Dataran Tinggi Parahyangan, dilihat dari Bogor (k. 1865-1872). gambar wisataarea.com
Dataran Tinggi Parahyangan, dilihat dari Bogor (k. 1865-1872)


Suhu rata-rata sepanjang tahun adalah antara 22 °C sampai 29 °C, dengan kelembaban rata-rata 75%. Daerah pantai utara biasanya lebih panas, dengan rata-rata 34 °C pada siang hari di musim kemarau. Daerah pantai selatan umumnya lebih sejuk daripada pantai utara, dan daerah dataran tinggi di pedalaman lebih sejuk lagi. Musim hujan berawal pada bulan Oktober dan berakhir pada bulan April, di mana hujan biasanya turun di sore hari, dan pada bulan-bulan selainnya hujan biasanya hanya turun sebentar-sebentar saja. Curah hujan tertinggi umumnya terjadi pada bulan-bulan bulan Januari dan Februari.

Jawa Barat bercurah hujan lebih tinggi daripada Jawa Timur, dan daerah pegunungannya menerima curah hujan lebih tinggi lagi. Curah hujan di Dataran Tinggi Parahyangan di Jawa Barat mencapai lebih dari 4.000 mm per tahun, sedangkan di pantai utara Jawa Timur hanya 900 mm per tahun.

Geologi

Pemerian geologi Jawa paling lengkap diungkap dalam van Bemmelen (1949). Sebagai pulau, Jawa secara geologi relatif muda. Pembentukan dimulai dari periode Tersier. Sebelumnya, kerak bumi yang membentuk pulau ini berada di bawah permukaan laut. Aktivitas orogenis yang intensif sejak kala Oligosen dan Miosen mengangkat dasar laut sehingga pada kala Pliosen dan Pleistosen wujud Pulau Jawa sudah mulai terbentuk. Sisa-sisa dasar laut masih tampak, membentuk fitur sebagian besar kawasan karst di selatan pulau ini.

Van Bemmelen membagi Pulau Jawa dalam tujuh satuan fisiografi sebagai berikut.
1.    Pegunungan Selatan, merupakan zona gamping bercampur sisa aktivitas vulkanis dari kala Miosen yang mengalami beberapa pengangkatan hingga periode Kuarter.
2.    Zona vulkanis dari periode Kuarter, dengan gunung-gunung api tinggi, seringkali dengan puncak di atas 2000 m dari permukaan laut, membentang dari barat sampai ujung timur.
3.    Depresi Tengah, membentuk poros cekungan sebagai poros utama pulau, dengan dua depresi besar: depresi Bandung dan depresi Solo
4.    Zona antiklinal Tengah, terdiri dari endapan-endapan kala Miosen sampai Pleistosen, dimulai dari Gunung Karang terus ke timur melewati Bogor, lembah Serayu, lalu Pegunungan Kendeng, terus sampai ke pantai utara Besuki.
5.    Depresi Randublatung, merupakan depresi kecil memanjang di utara Pegunungan Kendeng, terbentuk dari endapan laut dan daratan.
6.    Antiklinorium Rembang-Madura, merupakan formasi perbukitan gamping di pantai utara Jawa Timur dan membentuk hampir semua bagian Pulau Madura
7.    Dataran aluvial pesisir utara (Jalur Pantura) yang terbentuk dari delta dan endapan lumpur, merupakan daratan paling muda.

Demografi

Pemerintahan

Secara administratif pulau Jawa terdiri atas enam provinsi:
-    Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sekaligus sebagai Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia
-    Provinsi Banten, dengan ibukota provinsi Kota Serang
-    Provinsi Jawa Barat, dengan ibukota provinsi Kota Bandung
-    Provinsi Jawa Tengah, dengan ibukota provinsi Kota Semarang
-    Provinsi Jawa Timur, dengan ibukota provinsi Kota Surabaya
-    Daerah Setingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan ibukota Kota Yogyakarta

Penduduk

Dengan populasi sebesar 160 juta jiwa. Jawa adalah pulau yang menjadi tempat tinggal lebih dari 60% populasi Indonesia. Dengan kepadatan 1.317 jiwa/km², pulau ini juga menjadi salah satu pulau di dunia yang paling dipadati penduduk. Sekitar 45% penduduk Indonesia berasal dari etnis Jawa. Walaupun demikian sepertiga bagian barat pulau ini (Jawa Barat, Banten, dan Jakarta) memiliki kepadatan penduduk lebih dari 1.500 jiwa/km2.
Sejak tahun 1970-an hingga kejatuhan Suharto pada tahun 1998, pemerintah Indonesia melakukan program transmigrasi untuk memindahkan sebagian penduduk Jawa ke pulau-pulau lain di Indonesia yang lebih luas. Program ini terkadang berhasil, namun terkadang menghasilkan konflik antara transmigran pendatang dari Jawa dengan populasi penduduk setempat. Di Jawa Timur banyak pula terdapat penduduk dari etnis Madura dan Bali, karena kedekatan lokasi dan hubungan bersejarah antara Jawa dan pulau-pulau tersebut. Jakarta dan wilayah sekelilingnya sebagai daerah metropolitan yang dominan serta ibukota negara, telah menjadi tempat berkumpulnya berbagai suku bangsa di Indonesia.
Penduduk Pulau Jawa perlahan-lahan semakin berciri urban, dan kota-kota besar serta kawasan industri menjadi pusat-pusat kepadatan tertinggi. Berikut adalah 10 kota besar di Jawa berdasarkan jumlah populasi tahun 2005. (gambar)

Etnis dan budaya

Seorang pemuda berpakaian tradisional Jawa dengan kelengkapan: blangkon, kain batik, dan keris (1913). (gambar) wisatataarea.com
Seorang pemuda berpakaian tradisional Jawa dengan kelengkapan: blangkon, kain batik, dan keris (1913). (gambar)

Mitos asal usul pulau Jawa serta gunung-gunung berapinya diceritakan dalam sebuah kakawin, bernama Tangtu Panggelaran. Komposisi etnis di pulau Jawa secara relatif dapat dianggap homogen, meskipun memiliki populasi yang besar dibandingkan dengan pulau-pulau besar lainnya di Indonesia. Terdapat dua kelompok etnis utama asli pulau ini, yaitu etnis Jawa dan etnis Sunda. Etnis Madura dapat pula dianggap sebagai kelompok ketiga; mereka berasal dari pulau Madura yang berada di utara pantai timur Jawa, dan telah bermigrasi secara besar-besaran ke Jawa Timur sejak abad ke-18. Jumlah orang Jawa adalah sekitar dua-pertiga penduduk pulau ini, sedangkan orang Sunda mencapai 20% dan orang Madura mencapai 10%.
Empat wilayah budaya utama terdapat di pulau ini: sentral budaya Jawa (kejawen) di bagian tengah, budaya pesisir Jawa (pasisiran) di pantai utara, budaya Sunda (pasundan) di bagian barat, dan budaya Osing (blambangan) di bagian timur. Budaya Madura terkadang dianggap sebagai yang kelima, mengingat hubungan eratnya dengan budaya pesisir Jawa. Kejawen dianggap sebagai budaya Jawa yang paling dominan. Aristokrasi Jawa yang tersisa berlokasi di wilayah ini, yang juga merupakan etnis dengan populasi dominan di Indonesia. Bahasa, seni, dan tata krama yang berlaku di wilayah ini dianggap yang paling halus dan merupakan panutan masyarakat Jawa. Tanah pertanian tersubur dan terpadat penduduknya di Indonesia membentang sejak dari Banyumas di sebelah barat hingga ke Blitar di sebelah timur.

Jawa merupakan tempat berdirinya banyak kerajaan yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara, dan karenanya terdapat berbagai karya sastra dari para pengarang Jawa. Salah satunya ialah kisah Ken Arok dan Ken Dedes, yang merupakan kisah anak yatim yang berhasil menjadi raja dan menikahi ratu dari kerajaan Jawa kuno; dan selain itu juga terdapat berbagai terjemahan dari Ramayana dan Mahabharata. Pramoedya Ananta Toer adalah seorang penulis kontemporer ternama Indonesia, yang banyak menulis berdasarkan pengalaman pribadinya ketika tumbuh dewasa di Jawa, dan ia banyak mengambil unsur-unsur cerita rakyat dan legenda sejarah Jawa ke dalam karangannya.

Bahasa

Bahasa-bahasa yang dipertuturkan di Jawa (bahasa Jawa warna putih). wisataarea.com


Tiga bahasa utama yang dipertuturkan di Jawa adalah bahasa Jawa, bahasa Sunda, dan bahasa Madura. Bahasa-bahasa lain yang dipertuturkan meliputi bahasa Betawi (suatu dialek lokal bahasa Melayu di wilayah Jakarta), bahasa Osing dan bahasa Tengger (erat hubungannya dengan bahasa Jawa), bahasa Baduy (erat hubungannya dengan bahasa Sunda), bahasa Kangean (erat hubungannya dengan bahasa Madura), bahasa Bali, dan bahasa Banyumasan. Sebagian besar besar penduduk mampu berbicara dalam bahasa Indonesia, yang umumnya merupakan bahasa kedua mereka.
Agama dan kepercayaan

Jawa adalah kancah pertemuan dari berbagai agama dan budaya. Pengaruh budaya India adalah yang datang pertama kali dengan agama Hindu-Siwa dan Buddha, yang menembus secara mendalam dan menyatu dengan tradisi adat dan budaya masyarakat Jawa. Para brahmana kerajaan dan pujangga istana mengesahkan kekuasaan raja-raja Jawa, serta mengaitkan kosmologi Hindu dengan susunan politik mereka. Meskipun kemudian agama Islam menjadi agama mayoritas, kantong-kantong kecil pemeluk Hindu tersebar di seluruh pulau. Terdapat populasi Hindu yang signifikan di sepanjang pantai timur dekat pulau Bali, terutama di sekitar kota Banyuwangi. Sedangkan komunitas Buddha umumnya saat ini terdapat di kota-kota besar, terutama dari kalangan Tionghoa-Indonesia.

Sekumpulan batu nisan Muslim yang berukiran halus dengan tulisan dalam bahasa Jawa Kuna dan bukan bahasa Arab ditemukan dengan penanggalan tahun sejak 1369 di Jawa Timur. Damais menyimpulkan itu adalah makam orang-orang Jawa yang sangat terhormat, bahkan mungkin para bangsawan. M.C. Ricklefs berpendapat bahwa para penyebar agama Islam yang berpaham sufi-mistis, yang mungkin dianggap berkekuatan gaib, adalah agen-agen yang menyebabkan perpindahan agama para elit istana Jawa, yang telah lama akrab dengan aspek mistis agama Hindu dan Buddha. Sebuah batu nisan seorang Muslim bernama Maulana Malik Ibrahim yang bertahun 1419 (822 Hijriah) ditemukan di Gresik, sebuah pelabuhan di pesisir Jawa Timur. Tradisi Jawa menyebutnya sebagai orang asing non-Jawa, dan dianggap salah satu dari sembilan penyebar agama Islam pertama di Jawa (Walisongo), meskipun tidak ada bukti tertulis yang mendukung tradisi lisan ini.

Saat ini hampir 100% suku Sunda, Betawi, Banten dan Cirebon serta sekitar 95 persen suku Jawa menganut agama Islam. Agama Islam sangat kental memberi pengaruh pada suku Betawi, Banten, Cirebon dan Sunda. Muslim suku Jawa dapat dibagi menjadi abangan (lebih sinkretis) dan santri (lebih ortodoks). Dalam sebuah pondok pesantren di Jawa, para kyai sebagai pemimpin agama melanjutkan peranan para resi pada masa Hindu. Para santri dan masyarakat di sekitar pondok umumnya turut membantu menyediakan kebutuhan-kebutuhannya. Tradisi pra-Islam di Jawa juga telah membuat pemahaman Islam sebagian orang cenderung ke arah mistis. Terdapat masyarakat Jawa yang berkelompok dengan tidak terlalu terstruktur di bawah kepemimpinan tokoh keagamaan, yang menggabungkan pengetahuan dan praktik-praktik pra-Islam dengan ajaran Islam.

Agama Katolik Roma tiba di Indonesia pada saat kedatangan Portugis dengan perdagangan rempah-rempah. Agama Katolik mulai menyebar di Jawa Tengah ketika Frans van Lith, seorang imam dari Belanda, datang ke Muntilan, Jawa Tengah pada tahun 1896. Kristen Protestan tiba di Indonesia saat dimulainya kolonialisasi Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) pada abad ke-16. Kebijakan VOC yang melarang penyebaran agama Katolik secara signifikan meningkatkan persentase jumlah penganut Protestan di Indonesia. Komunitas Kristen terutama terdapat di kota-kota besar, meskipun di beberapa daerah di Jawa tengah bagian selatan terdapat pedesaan yang penduduknya memeluk Katolik. Terdapat kasus-kasus intoleransi bernuansa agama yang menimpa umat Katolik dan kelompok Kristen lainnya.

Tahun 1956, Kantor Departemen Agama di Yogyakarta melaporkan bahwa terdapat 63 sekte aliran kepercayaan di Jawa yang tidak termasuk dalam agama-agama resmi di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 35 berada di Jawa Tengah, 22 di Jawa Barat dan 6 di Jawa Timur. Berbagai aliran kepercayaan (juga disebut kejawen atau kebatinan) tersebut, di antaranya yang terkenal adalah Subud, memiliki jumlah anggota yang sulit diperkirakan karena banyak pengikutnya mengidentifikasi diri dengan salah satu agama resmi pula.

Ekonomi dan Mata pencaharian


Awalnya, perekonomian Jawa sangat tergantung pada persawahan. Kerajaan-kerajaan kuno di Jawa, seperti Tarumanagara, Mataram, dan Majapahit, sangat bergantung pada panen padi dan pajaknya. Jawa terkenal sebagai pengekspor beras sejak zaman dahulu, yang berkontribusi terhadap pertumbuhan penduduk pulau ini. Perdagangan dengan negara Asia lainnya seperti India dan Cina sudah terjadi pada awal abad ke-4, terbukti dengan ditemukannya keramik Cina dari periode tersebut. Jawa juga terlibat dalam perdagangan rempah-rempah Maluku semenjak era Majapahit hingga era Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC). Perusahaan dagang tersebut mendirikan pusat administrasinya di Batavia pada abad ke-17, yang kemudian terus dikembangkan oleh pemerintah Hindia-Belanda sejak abad ke-18. Selama masa penjajahan, Belanda memperkenalkan budidaya berbagai tanaman komersial, seperti tebu, kopi, karet, teh, kina, dan lain-lain. Kopi Jawa bahkan mendapatkan popularitas global di awal ke-19 dan abad ke-20, sehingga nama Java telah menjadi sinonim untuk kopi.

Jawa telah menjadi pulau paling berkembang di Indonesia sejak era Hindia-Belanda hingga saat ini. Jaringan transportasi jalan yang telah ada sejak zaman kuno dipertautkan dan disempurnakan dengan dibangunnya Jalan Raya Pos Jawa oleh Daendels di awal abad ke-19. Kebutuhan transportasi produk-produk komersial dari perkebunan di pedalaman menuju pelabuhan di pantai, telah memacu pembangunan jaringan kereta api di Jawa. Saat ini, industri, bisnis dan perdagangan, juga jasa berkembang di kota-kota besar di Jawa, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Bandung, sedangkan kota-kota kesultanan tradisional seperti Yogyakarta, Surakarta, dan Cirebon menjaga warisan budaya keraton dan menjadi pusat seni, budaya dan pariwisata. Kawasan industri juga berkembang di kota-kota sepanjang pantai utara Jawa, terutama di sekitar Cilegon, Tangerang, Bekasi, Karawang, Gresik, dan Sidoarjo.

Jaringan jalan tol dibangun dan diperluas sejak masa pemerintahan Soeharto hingga sekarang, yang menghubungkan pusat-pusat kota dengan daerah sekitarnya, di berbagai kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, dan Surabaya. Selain jalan tol tersebut, di pulau ini juga terdapat 16 jalan raya nasional.
sumber : wikipedia Bahasa Indonesia

Silahkan kunjungi Tempat-Tempat Wisata di Pulau Jawa 

Terimakasih atas kunjungannya., Jangan Lupa Buang Sampah Pada Tempatnya! selamat berwisata dan semoga bermanfaat. Wisataarea.com (:

Related Posts:

Wisata Goa Putri Kencono Wonogiri Jawa Tengah Indonesia

Wisata Goa Putri Kencono Wonogiri

Wisata Goa Putri Kencono Wonogiri Jawa Tengah Indonesia memiliki pemandangan yang sangat indah berupa stalagtit (menggantung dari atas goa kebawah) dan stalagmit (gunung-gunung kecil yang menjulang dari dasar gua) di sepanjang goa serta terdapat ruangan-ruangan di mana masyarakat sekitar percaya bahwa raung tersebut layaknya ruangan dalam kerajaan. Goa ini memiliki keunikan tersendiri yaitu dengan memiliki luas sekitar 1000 m2 (seribu meter persegi) serta jalur dalam gua yang dapat menembus bukit di seberangnya.Wisata Goa Putri Kencono berda di Desa Wonodadi, Kecamata Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri atau yang berjarak sekitar 40 km dari pusat kota Wonogiri.

wisata goa gua putri ayu kencono kencana kabupaten wonogiri jawa tengah indonesia wisataarea.com
solopos.com


Kunjungi Juga Wisata Bukit Gantole Wonogiri 


Asal - Usul Goa Putri Kencono Wonogiri

Asal-usul nama Wisata Goa Putri Kencono tidak lepas darialamarhum Pawiro Rejo atau mantan Kadus (kepala dusun) Wonosobo dan juga menjadi sesepuh desa setempat. Pawiro Rejo juga pemilik gunung Gandok di manaWisata Goa Putri Kencana Berada. Beliau sering bertapa dan bercerita kepada anak cucunya bahwa di Gunung Gandok tersebut bersemayam seorang rupawan dan cantik jelita dan memperkanalkan dirinya dengan nama Putri Kencana, sehingga dari peristiwa itulah warga sekitar akhirnya sering menyebut atau diberi nama Goa Putri Kencono.

wisata goa gua putri ayu kencono kencana kabupaten wonogiri jawa tengah indonesia wisataarea.com
pintu gerbang


 Kunjungi Juga Wisata  Spiritual Kahyangan Wonogiri


Saat pertama kali ditemukan Wisata Goa Putri Kencono terdapat fosil-fosil seperti tulang belulang biantang dan sompil laut yang sudah membatu, pong-pongan (kuwuk), buah kemiri yang sudah membatu dan kul sejenis bekicot tetepi merayap pada dinding.
Wisata Goa Putri Kencono Wonogiri memiliki panjang 121 meter dengan lebar 4 mete
r  dihiasi oleh stalagtit dan stalagmit yang masih hidup yang setiap tahunnya bertambah panjang.


 Kunjungi Juga Wisata Pantai Nampu Wonogiri


Area Wisata Goa Putri Kencono Wonogiri

Masuk kedalam Area Wisata Goa Putri Kencono yang terdapat ruang-ruang didalamnya kita akan disambut oleh ruangan yang berbentu seperti gajah dan warga sekitar juga percaya bahwa ruangan tersebut digunakan sebagai ruangan untuk menerima tamu yang akan diuji fisik dan pikirannya. Namun sebelum itu kita harus mengisi buku tamu  dan membaca papan larangan yang bertuliskan jika wanita yang sedang haid dilarang masuk kedalam Goa Putri Kencono. Dan apabila larangan tersebut dilanggar maka lampu akan padam atau orang tersebut akan mengalami musibah di dalam goa menurut cerita warga sekitar.


Kunjugi Juga Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri


Setelah berjalan beberapa langkah kita akan sampai pada raung kebudayaan dimana ada sebuah keistimewaan diruangan ini, yaitu apabila stalagtit atau stalagmit kita oukul maka akan menghasilkan siara yang mirip dengan suara Gamelan Jawa.
Masuk lebih dalam lagi kita akan sampai pada ruang pusaka dimana konon warga percaya bahwa banyak terdapat pusaka-pusaka goib tersimpan di ruangan ini. Selanjutnya kita tiba di ruang yang lebih luas dan langit-langit goa yang lebih tinggi dan terdapat stalagtit yang menjulur kebawah menyerupai sebuah tempat duduk. Ruang ini dipercayai sebagai ruang jumenengan yang biasa digunakan sebagai tempat bermeditasi. Dibelakangnya atau dibelakang ruang jumenengan trerdapat raung sarasehan yang tampak lebih luas dan dipercaya dalam raungan sarasehan ini biasa digunakan sebagai ruang pertemuan oleh Putri Kencono dan seluruh penghuni goib goa menggelar rapat. Mitos yang sama juga ada dalam ruang keluarga yang letaknya cukup jauh dalam goa. Dan lokasi yang berada di paling ujung adalah Sendang Panyuwunan.
Wisata Goa Putri Kencono Wonogiri memiliki mitos dan sejarah yang majadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk datang mengunjunginya baik sebagai wisata spiritual maupun wisata liburan pada umumnya.

Untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam bauanglah sampah pada tempatnya! Semoga bermanfaat dan selamat berwisata wisataarea.com (:

Related Posts:

Wisata Spiritual Kahyangan Kabupaten Wonogiri Indonesia

Wisata Spiritual Kahyangan Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. 


Wisata Spiritual Kahyangan Wonogiri Jawa Tengah Indonesia, Tidak hanya Waduk Gajah Mungkur (WGM) yang menjadi ikon dan tujuan wisata di Kabupaten Wonogiri namun tidak kalah juga sebuah tempat wisata yang terletak sebelah Timur Kabupaten Wonogiri tepatnya di Desa Dlepih, Tirtomoyo terdapat sebuah situs bersejarah yang bernama Kahyangan yang hanya berjarak kirakira 50 km dari arah pusat Kota Wonogiri.


Kunjungi Juga Wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM)



Rute Menuju Wisata Kahyangan Wonogiri

Rute Menuju Wisata Spiritual Kahyangan Kabupaten Wonogiri dari kota Wonogiri kita bisa mulai naik dari terminal bus Giriwono kemudian naik minibus jurusan Tirtomoyo dari dekat Ponten dekat Kantor Badan  Pertanahan Wonogiri. Dari Tirtomoyo bisa naik angdes atau angkutan desa jurusan Kahyangan atau Sukarjo, tapi kita belum sampai pada tempat tujuan kita dan jika ingin sampai pada tempat parkir Wisata Spiritual Kahyangan kita harus membayar ekstra.

wisata spiritual kahyangan kabupaten wonogiri jawa tengah indonesia wisataarea.com
gambar mytrip123.com


Setelah kita sampai pada Wisata Spiritual Kahyangan Wonogiri kita akan disuguhi dengan goa yang berada diatas kedung. Konon, tempat itu digunakan oleh Danang Suto Wijoyo untuk tempat bersemedi oleh Raja Mataram Islam yang pertama tersebut. Selain goa dan kedung juga terdapat sebuah air terjun, di puncak Kahyangan pula konon Raja Mataram tersebut menemui Kanjeng Nyi Roro Kidul atau Ratu Kidul atau Ratu Pantai Selatan.


wisata spiritual kahyangan kabupaten wonogiri jawa tengah indonesia wisataarea.com
gambar suaramerdeka


Kunjungi Juga Wisata Pantai Nampu Wonogiri



Wisata Spiritual Kahyangan Wonogiri konon merupakan tempat Raja Mataram dalam melakukan tirakat dan meditasi. Di tempat ini pula Raja Danang Suto Wijoyo mendapat wahyu dan mengadakan perjanjian untuk mendirikan sebuah kerajaan di tanah Jawa. Dalam sejarah Kerajaan Mataram memang akhirnya dapat menguasai tanah Jawa dan menjadi salah satu kerajaan yang disegani di Nusantara.

wisata spiritual kahyangan kabupaten wonogiri jawa tengah indonesia wisataarea.com
gambar wonogiri.kab.go.id


Kunjungi Juga Wisata Bukit Gantole Wonogiri
 

Wisata Spiritual Kahyangan Wonogiri juga mulai rame pada hari-hari menjelang pergantian Tahun Baru Jawa (bulan Suro) atau 1 Muharam dalam bulan Islam, banyak wisatawan yang berkunjung Wisata Spiritual Kahyangan dari dalam daerah maupun luar daerah Wonogiri, terutama dari Yogyakarta, Pacitan, Solo, Karanganyar. Sedangkan pada hari-hari biasa akan banyak dikinjungi pada malam Jum’at Kliwon terutama oleh orang-orang luar daerah yang mengadakan semacam syukuran dengan mengundang warga sekitar Kahyangan Wonogiri.


wisata spiritual kahyangan kabupaten wonogiri jawa tengah indonesia wisataarea.com
acara sedekah bumi gambar wonogiri.kab.go.id



Kunjungi Juga Wisata Menara Pandang Soko Gunung
 
 
Suasan di Wisata Spiritual Kahyangan memang tersa sakral dengan iringna suara gemericik suara air sungai yang mengalir. Kita bisa sekedar istirahat  danmelepaskan lelah dari perjalanan dan hirukpikiuk kesibukan yang membosankan setiap harinya.



Kunjungi Juga Wisata Batu Seribu Wonogiri




Fasilitas di Wisata Spiritual Kahyangan Wonogiri

Fasilitas di Wisata Spiritual Kahyangan juga dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana diantaranya adalah tempat ibadah, toilet, tempat makan dan tempat pembelian souvenir yang terbaut dari kayu, batu mulia dan benda-benda lainnya.



Untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam bauanglah sampah pada tempatnya! Semoga bermanfaat dan selamat berwisata wisataarea.com (:

Related Posts:

Wisata Pantai Banyutowo Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah Indonesia

Wisata Pantai Banyutowo Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah Indonesia


Lokasi Wisata Pantai Banyutowo Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah Indonesia

Wisata Pantai Banyutowo Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Tidak hanya Waduk Gajah Mungkur (WGM) yang menjadi destinasi wisata di Kabupaten Wonogiri. Ada beberapa pantai Selain Pantai Nampu dan  Pantai Sembukan ternyata adalagi pantai di Kabupaten Wonogiri yang tidak kalah menariknya yaitu Wisata Pantai Banyutowo Wonogiri yang berlokasi masih satu kecamatan juga dengan Pantai Nampu yaitu di kecamatan Paranggupito atau tepatnya di Desa Gudangharjo, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri.


Wisata Pantai Banyutowo kabupaten Wonogiri Jawa Tengah Indonesia wisataarea.com
pantai Banyutowo Wonogiri sumber gambar tempatwisatawonogiri.blogspot.com 



Tentang Wisata Pantai Banyutowo Kabupaten Wonogiri

Wisata Pantai Banyutowo adalah sebuah pantai dimana ada sumber air tawar yang mengalir dan bertemu dengan air laut. Kenapa dinamakan Pantai Banyutowo? Yap Banyutowo sendiri berasal dari dua kata yaitu Banyu dan Towo. Banyu berarti air dan Towo sendiri adalah tawar, jadi kalau digabungkan menjadi Pantai Banyutowo yang berarti Pantai air tawar. Bukan karena air lautnya tidak asin namun karena ada sumber yang berasal dari mata air tanah jadi air disekitar sumber rasanya tawar karena belum tercampur dengan air laut yang asin.


 



Ketika kita mandi atau bermain air di Wisata Pantai Banyutowo Wonogiri maka akan ada sensasi yang berbeda dari pantai lainnya. Karena tubuh kita tidak akan terasa lengket seperti pada pantai umumnya yang airnya asin jadi membuat tubuh terasa lengket seperti berkeringat. Tapi di Pantai Banyutowo ini kita hanya akan merasa seperti mandi dengan air tawar karena memang air tawar yang dominan di pantai ini.


 

Keindahan alam Wisata Pantai Banyutowo Wonogiri tidak kalah dengan pantai-pantai pada umumnya dengan hamparan pasir putih dihiasi bukit karang dan deburan ombak yang indah tentunya. Eh ada juga air terjunnya lho. Selain menikmati keindahan aam kita juga bisa memancing bersama teman atau keluarga dipantai ini.


 

Rute Menuju Wisata Pantai Banyutowo Kabupaten Wonogiri

Untuk menuju ke Wisata Pantai Banyutowo Wonogiri kita bisa menggunakan rute sebagai berikut
Rute perjalanan yang dapat kita tempuh untuk menuju Wisata Pantai Banyuntowo Wonogiri dari Kecamatan Ngadirojo kemudian menuju ke Kecamatan Baturetno – Giriwoyo – Giri Tontro – Perempatan Giri Belah – Paranggupito. Sedangkan jika kita dari arah kota Surakarta atau Solo dapat mengambil rute Kota Wonogiri lalu ke Ngadirojo seperti rute diatas hehe.


 

Untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam baunglah sampah pada tempatnya! Semoga bermanfaat dan selamat berwisata. wisataarea.com (:

Related Posts:

Wisata Air Terjun Desa Sentren Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah Indonesia

Wisata Air Terjun Desa Sentren Wonogiri

 
wisata air terjun desa setren girimanik kabupaten wonogiri Jawa tengah Indonesia wisataarea.com
gambar azwisata.com

Kabupaten Wonogiri menjadi salah satu kabupaten yang berbatasan langsung dengan Wilayah Provinsi Jawa Timur. Kabupaten Wonogiri memiliki bentang alam pegunungan yang indah dan asri sehingga Kabupaten Wonogiri memiliki banyak lokasi yang indah dan menarik untuk dikunjungi sebagai objek wisata dan berlibur.


wisata air terjun desa setren girimanik kabupaten wonogiri Jawa tengah Indonesia wisataarea.com
selamat datang


 Kunjungi Juga Wisata Pantai Sembukan Wonogiri
 

Jika Kabupaten Karanganyar memiliki air terjun yang sudah fenomenal bernama Grojogan Sewu di Tawangmangu, namun Wonogiri juga punya air terjun sendiri yang bernama Air Terjun  Desa Sentren yang terletak di Desa Sentren Kecamatan  Slogohimo Kabupaten Wonogiri. Jaraknya kira-kira 40 km dari pusat Kota Wonogiri menuju ke arah Ponorogo. Keberadaan Wisata Air Terjun Desa Sentren di Kabupaten Wonogiri menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi para warga sekitar dan juga para wisatawan yang berkunjung ke Wonogiri dan sekitarnya. Air Terjun Desa Sentren sendiri memiliki tiga buah air terjun dengan ketinggian yang berbeda-beda dengan setiap lokasi air terjun  yang menyuguhkan pemandangan dan keadaaan alam yang berbeda-beda yang asri dan sejuk sehingga mampu memanjakan  para pengunjung.


 Kunjungi Juga Wisata Waduk Gajah Mungkur Wonogiri (WGM)
 

Di lokasi Wisata Air Terjun Desa Sentren Wonogiri memiliki tiga air terjun diantaranya Air Terjun Manikmoyo, Air Terjun Tejomoyo, dan Air Terjun Condromoyo. Ketinggian masing-masing air terjun ini juga berbeda-beda diantaranya Air Terjun Manikmoyo dengan ketinggian kurang lebih 70 meter, Air Terjun Tejomoyo dengan ketinggian kurang lebih 30 meter, dan terakhir air terjun Condromoyo. Ketiga air terjun ini memiliki jarak yang tidak terlalu jauh antara satu dengan yang lainnya sehingga ibarat kata sekali dayung dua tiga pulau terlewati hehe. Ya dengan berkunjung pada satu tempat saja kita sudah bisa dapat tiga air terjun. Semua air terjun baik Air Terjun Manikmoyo, Air Terjun Tejomoyo maupun Air Terjun Condromoyo semuanya berada di Kawasan Wisata Girimanik Sentren Wonogiri.


 Kunjungi Juga Wisata Bukit Gantole Wonogiri
 




Rute menuju Wisata Air Terjun Sentren terletak di desa Sentren, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri dengan jarak tempuh sekitar 40 km dari pusat kota Wonogiri ke arah Ponorogo Jawa Timur. Perjalanan dari pusat kota Wonogiri menuju kearah Slogohimo, setelah itu menempuh perjalanan dengan jarak kurang lebih 10 km kearah pintu gerbang masuk Wisata Air Terjun Desa Sentren Kabupaten Wonogiri yang sedikit menanjak. Dari arah pintu gerbang masuk kita akan berjalan menuju air terjun dengan melewati Bumi Perkemahan dan dibutuhkan sekitar waktu lima menit dari lokasi Bumi Perkemahan menuju area Air Terjun Manikmoyo, sedangkan untuk menuju Wisata Air Terjun Tejomoyo kita membutuhkan waktu perjalanan sekitar 30menit dengan melewati jalan menuruni lembah. Dan untuk air terjun ketiga yaitu Air Terjun Condromoyo.



Untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam baunglah sampah pada tempatnya! Semoga bermanfaat dan selamat berwisata wisataarea.com (:


sumber : Potensijateng.com

Related Posts:

Wisata Pantai Sembukan Wonogiri

Wisata Pantai Sembukan Wonogiri adalah salah satu diantara banyak destinasi wisata di Kabupaten Wonogiri dan sangat sayang jika kita tidak mampir ke Pantai Sembukan apabila kita berada di Surakarta ataupun di Wonogiri, karena hanya di Wonogiri saja satusatunya kota yang memiliki wisata pantai di wilayah Karesidenan Surakarta.

 
wisata pantai sembukan kabupaten wonogiri wisataarea.com
gambar Rockalisious


Kunjungi Juga Wisata Waduk Gajah Mungkur (WGM)  Wonogiri


Wisata Pantai Sembukan  berlokasi di Kecamatan Paranggupito Kabupaten Wonogiri. Pantai yang berjarak hanya 3,5 km dari Kantor Kecamatan Paranggupito .  Pantai yang berjarak sekitar 40km dari kota Wonogiri atau perjalanan sekitar 2jam dan berada diujung selatan Kabupaten Wonogiri.

wisata pantai sembukan kabupaten wonogiri wisataarea.com
gambar backpakerjakarta.com


Kunjungi Juga Wisata Pantai Nampu


Perjalanan yang cukup melelahkan akan terbayar dengan pantai dengan diapit dua bukit dan deburan ombak yang menambah khasnya suasana patai pada umumnya. Dan apabila kita berkinjung kepantai Sembukan pada waktu yang tepat maka kita akan dapat menyaksikan berbagai acara ritual yang diadakan oleh warga sekitar yang berupa tarian atau acaraacara sejenisnya, contohnya pada hari-hari menjelang 1 Suro atau Tahun Baru Jawa.


 Kunjungi Juga Wisata Bukit Gantole Wonogiri


Akses menuju Wisata Pantai Sembukan sudah cukup memadai sengan jalan beraspal dan cukup untuk dilalui minibus. Disepanjang perjalanan menuju Wisata Pantai Sembukan kita akan dimanjakan pula dengan keindahan alam berupa pepohonan hijau dan tebing bebatuan karst atau kapur. Dan jika kita mengunjungi Wisata Pantai Sembukan kita juga harus mematuhi dan menghormati peraturan yang terkait dengan kepercayaan masyarakat sekitar mengenai pantai ini.


wisata pantai sembukan kabupaten wonogiri wisataarea.com
gambar bukupintarwonogiri

Kunjungi Juga Wisata Menara Pandang Wonogiri


Untuk menjaga kebersihan dan kelestarian alam baunglah sampah pada tempatnya! Semoga bermanfaat dan selamat berwisata wisataarea.com (:

Related Posts: